Senin, 13 Juli 2009

Pendahuluan...

Sebelumnya mungkin sebagian dari anda sering salah kaprah dengan kata “Diet”. Pengertian yang lumrah yang biasa kita mengerti dari kata diet adalah usaha seseorang untuk menurunkan berat badan, pengertian ini pula yang saya pegang sebelum berkuliah di bidang gizi. Kini pengertian itu memang ternyata salah, pengertian sebenarnya dari diet sendiri adalah usaha seseorang untuk mengatur pola makan ataupun perilaku makan dengan mengkonsumsi apa yang baik dan menghindari apa yang kurang baik sesuai dengan karakteristik masing-masing individu, aktivitas, dan kondisi individu itu sendiri. Tulisan saya kali ini saya ambil dari buku berjudul Penuntun Diet dengan editor dr. Sunita Almatsier, M.Sc penerbit Gramedia. Buku ini adalah buku yang saya gunakan sebagai pegangan dalam mata kuliah Dietetik. Buku ini bersampul hijau muda.

I. Angka Kecukupan Gizi (AKG)
Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (RDA) adalah tingkat konsumsi zat-zat gizi esensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hamper semua orang sehat di suatu Negara untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat di suatu negara. AKG di Indonesia didasarkan atas patokan berat badan untuk mesing-masing kelompok menurut umur, gender, dan aktivitas fisik yang ditetapkan secara berkala melalui survei penduduk. Di samping itu, AKG disusun pula untuk kondisi khusus, yaitu bagi ibu hamil dan menyusui. AKG digunakan sebagai standar untuk mencapai status gizi optimal bagi penduduk dalam hal penyediaan pangan secara nasional dan regional serta penilaian kecukupan gizi penduduk golongan masyarakat tertentu yang diperoleh dari konsumsi makanannya.

AKG berbeda dengan Angka Kebutuhan Gizi (Dietary Requirement). Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi yang dibutuhkan seseorang (individu) untuk mencapai dan mempertahankan status gizi adekuat, sedangkan AKG (Angka Kecukupan Gizi) adalah kecukupan gizi untuk rata-rata penduduk.
 Selain kebutuhan gizi menurut umur, gender, aktivitas fisik, dan kondisi khusus dalam keadaan sakit, penerapan kebutuhan gizi harus memperhatikan perubahan kebutuhan karena infeksi, gangguan metabolic, penyakit kronik, dan kondisi abnormal lainnya. Dalam hal ini perlu dilakukan perhitungan kebutuhan gizi secara khusus dan penerapannya dalam bentuk modifikasi diet atau diet khusus.

II. Cara Menentukan Kebutuhan Gizi dalam Keadaan Sehat

Ada berbagai cara menentukan kebutuhan gizi dalam hal ini energi atau AMB (Angka Metabolisme Basal).
Cara yang biasa kami gunakan adalah dengan menggunakan Rumus Harris Benedict (1919)
Laki-laki = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) – (6,8 x U)
Perempuan = 655 + (9,6 x BB) + (1,7 x TB) – (4,7 x U)
Keterangan: BB = berat badan dalam kg
                       TB = tinggi badan dalam cm
                       U = umur dalam tahun

Kebutuhan Energi Sehari = AMB x Faktor Aktivitas x Faktor Sakit


III. Cara Menentukan Status Gizi
Status gizi perlu diketahui untuk menentukan kategori status gizi kita. Status gizi mungkin anda ketahui dengan istilah Indeks Masa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI).
I
MT = (Berat Badan dalam kg) : (Tinggi Badan dalam meter dikuadratkan)

Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia (Sumber Depkes, 2003)


Kategori Ambang Batas IMT (Sumber WHO, 1995)

Karena kita berada di Indonesia, kita gunakan saja kategori yang bersumber dari Depkes. Diharapkan status gizi kita dalam kategori normal, tapi bagaimana jika ternyata status gizi kita kurang? Ya berarti kita perlu mengatur diet kita untuk meningkatkan status gizi kita dalam arti meningkatkan berat badan kita dengan mengkonsumsi pangan yang dianjurkan dan menghindari pangan yang tidak dianjurkan. Begitu pula sebaliknya.

Semoga tulisan saya ini cukup membantu anda dan jangan lupa mencari opini lain untuk melengkapi referensi ini. Terima kasih...

*Keterangan: tulisan italic saya ambil dari buku yang saya sebutkan di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar